Narasi 'Miskin karena Malas' itu Pendapat Ngaco, Ceroboh, dan Nir-empati

Image by. google

Kalimat Itu Nampaknya Masuk Akal, tapi Ngaco dan Ceroboh

Pas pertama kali denger kalimat "miskin karena malas", emang kedengerannya logis. Katanya, orang yang mau berusaha pasti bakal berhasil. Udah banyak juga yang dijadiin contoh dan kisahnya ala zero to hero-nya Naruto.

Masalahnya, hidup nggak sesimpel teori motivasi yang ada di TikTok dan sosial media. Di balik kalimat yang terdengar masuk akal itu, ada kesimpulan yang ngaco dan ceroboh--terutama karena mengabaikan realitas yang jauh lebih kompleks. 

Sekarang, kita bicara fakta. Ada banyak orang di sekitar saya, yang kerja dari pagi buta hingga malam hari tapi kondisinya masih gitu-gitu aja. 

Di sini, ada petani yang kulitnya terbakar matahari karena harus bolak-balik sawah sampe nggak inget waktu, ada juga buruh-buruh pabrik yang dalam sebulan cuma diberi jatah libur dua hari, ada juga pedagang keliling yang dorong gerobak, sampe kakinya bengkak. Mereka ini udah kerja keras, keras banget malah. Tapi hasilnya? Hidup mereka masih nampak jalan di tempat. 

Saat nyari tahu soal faktor penyebab kemiskinan, ada guru besar sosiologi dari Universitas Airlangga yang bilang kalau kemiskinan itu lebih sering disebabkan oleh faktor struktural daripada kultural. Inget, lebih ke faktor struktural. 

Kemalasan, tak punya etos kerja, dan wirausaha itu dikategorikan sebagai karakteristik psikologis kultural individu. Nah, kalimat "miskin karena males aja" ini, sebenarnya mengabaikan faktor-faktor struktural yang jadi penyebab utama dari kemiskinan itu sendiri. 

Artinya, bukan karena orangnya malas maka dia menghadapi kemiskinan. Tapi, karena sistemnya juga nggak mendukung. Sebut saja seperti pendidikan yang rendah, akses kesehatan yang minim, pekerjaan informal dengan upah yang nggak seberapa, kebijakan publik yang nggak adil, perbedaan kepemilikan sumber daya, akses modal, dan banyak lagi. 

Dan menariknya, itu semua bukan hal sederhana yang bisa diberesin pakai niat, semangat, tekad, kerja keras, dan kesimpulan sembrono kalian-kalian itu. 

Apalagi ada penelitian yang nunjukin kalo anak-anak dari keluarga miskin, cenderung bakal tetep miskin ketika dewasa. Kenapa? Karena mereka lahir tanpa modal, tumbuh tanpa akses yang layak, dan dididik di lingkungan yang nggak mendukung mobilitas sosial. 

Jadi, waktu ada yang bilang, "kamu miskin karena malas", itu orang sebenarnya sedang memotong ratusan lapis realitas hanya untuk menyederhanakan sesuatu yang ruwet dan kompleks. 

Narasi "Miskin karena Malas" Itu Jahat secara Fungsi

Nggak cuma salah secara logika, narasi macem itu juga jahat secara fungsi. Bisa jadi, narasi itu kepake buat kepentingan tertentu. 

Coba deh perhatikan, siapa orang yang paling sering nyebarin omongan kek gini? Umumnya, mereka udah duduk di kursi empuk, ngerasa nyaman, dan aman secara finansial. Dengan narasi begini, mereka bisa bisa bilang kesuksesan datang karena kerja keras. Sekilas emang inspiratif, tapi kalau didengerin lebih lanjut, kek ada pesan lanjutan yang bilang saat ada yang nggak sukses, artinya nggak cukup kerja keras atau bahkan pemalas.

Narasi semacam ini juga sering dipake buat nyalahin korban, biar nggak usah ngomong akar masalah seperti ketimpangan ekonomi, kebijakan publik yang nggak merata, bahkan sistem pendidikan yang kurikulumnya aja suka diganti-ganti. 

Kalau semua disederhanakan jadi "miskin gara-gara males", ya selesai. Jadinya seolah sistem nggak salah dan yang salah hanya individu. Simplifikasi masalah ruwet dari kepala seorang bedebah. 

Jangan lupa juga, narasi ini juga laku banget dijual. Orang-orang yang bilang begitu, emang seneng banget ngangkat kisah pribadinya dari nol sampai satu miliar pertama. Tapi yang nggak diceritain tuh banyak, mulai dari modal awal, koneksi milik keluarga, warisan, sampai momen keberuntungan/hoki yang kebetulan dateng. Itu nggak diceritain sama sekali. 

Jahat banget kalo ngeliatnya dari fungsi, soalnya buat nutup ketidakadilan, biar orang-orang bawah mikir kalau kemiskinannya adalah salah mereka sendiri, dan yang lain bisa lepas tangan plus nggak bantu apa-apa. 

Siapa yang Sebenarnya Malas? 

Kalau mau jujur, pertanyaan ini menarik: siapa sebenarnya yang malas?

Soalnya, orang yang tiap hari kerja dari subuh sampai malam, yang bolak-balik narik becak, dorong gerobak, angkat karung, jaga warung, atau jaga mesin pabrik selama 12 jam sehari, masa sih dibilang pemalas? Mereka mungkin nggak punya laptop atau jam kerja fleksibel, tapi badan mereka kerja terus. Beneran terus.

Yang malas, sebenarnya bukan mereka. Yang malas adalah orang-orang yang terlalu cepat menghakimi tanpa tahu cerita di baliknya. Malas baca realita. Malas bertanya. Malas mikir. Malas turun ke lapangan, lalu sok paling tahu gara-gara punya kondisi finansial yang lebih baik. Bro, meski lauu kaya, bukan berarti omonganmu bener semua. 

Orang-orang yang suka ngomong "miskin karena malas", nggak pernah ngelihat bagaimana akses pendidikan yang timpang bikin anak-anak dari keluarga miskin kesulitan bersaing. Mereka nggak pernah ngerasain gimana hidup dengan gaji harian yang bisa habis hanya buat beli makan. Mereka juga nggak paham kalau ada banyak orang yang kerja keras, tapi tetap nggak bisa nabung, karena semua harga naik, tapi gaji tetap.

Sebelum Nyalahin, Coba Pahami Lebih Dalam

Kita hidup di dunia yang nggak adil, dan ini fakta. Ada yang lahir dengan tabungan, koneksi, dan warisan. Ada juga yang lahir sambil langsung dibebani utang keluarga. Beda titik start, beda pula medan yang harus dilalui.

Jadi, kalau ada orang yang masih berjuang, masih kerja keras meski hasilnya belum seberapa, itu bukan tanda kemalasan. Itu tanda mereka masih bertahan. Masih waras. Masih percaya hidup bisa lebih baik, meski sistemnya nggak berpihak.

Sebelum ada yang ikut-ikutan bilang "miskin karena malas," coba deh berhenti sebentar. Lihat sekelilingmu. Dengarkan cerita mereka. Buka mata. Buka hati. Buka kepala. Karena dunia ini nggak butuh lebih banyak orang yang ngejek dari atas panggung. Yang dibutuhin adalah orang yang mau turun, duduk bareng, dan tanya, "Kamu baik-baik aja? Aku bisa bantu apa?"

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Narasi "Miskin karena Malas" itu Pendapat Ngaco, Ceroboh, dan Nir-empati", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/firdausalfaqi9363/681cb26834777c33471032f3/narasi-miskin-karena-malas-itu-pendapat-ngaco-ceroboh-dan-nir-empati?page=3&page_images=1

Kreator: Firdaus Al Faqi

Administrator

Mampu mempergunakan waktu sebaik mungkin semata-mata hanya untuk kembali Kepada Sang Pencipta. Karena waktu di dunia ini seperti antara Adzan dan Iqomah



Komentar